Sampai di Puncak Sagara - Part 14

     

 Alarm berbunyi.

Aku bangun paling pertama. Pas aku cek ternyata udah jam 3 pagi. Kayaknya aku tidur baru sebentar udah pagi aja. Badan rasanya masih ngreges dan lemes. Aku segera bangunin team cewek.
"Teh Iklim, An, Ndah..bangun udah jam 3 pagi".
Padahal mau nanjak pagi-pagi bener (niatnya), eh ternyata susah juga buat ngumpulin tenaga + melek-in mata yang pasti enakan tidur daripada jalan lagi (kalau gak inget tujuan kita itu "nanjak bukan rebahan")πŸ’ͺπŸ˜”. Jadinya banyak ngulur-ngulur waktu deh. Tau sendiri, kalau suka makan permen karet hehe πŸ‘ΆπŸ˜…

Dengan terpaksa dan masih ngantuk banget, mereka bangun juga. Nyalain center HP atau headlamp penerangan buat nyari apa-apa saja yang mau dibawa. Cuaca masih dingin banget, aku masih duduk melamun sambil menutupi badan pakai sleeping bag. Dengan kondisi meriyang semalam, aku udah bilang gak mau ikut summit, mau nunggu di tenda aja. 

Dan pas bangun pagi dini hari pun badan masih lemes. Tapi, Aini juga mau di tenda aja kalau aku gak summit, sekalian nemenin aku takut kenapa-kenapa. Aku berdiam diri cukup lama sembari liatin mereka yang lagi siap-siap. Dan, setelah di pertimbangkan kembali, Bismillahin aja deh ikut summit. Dalam hati sempet ngomong gini 

"Haduhh masa kejadian 2x nanjak tapi gak sampai puncak kaya pas di Cikuray. Sayang banget Lis.."πŸ˜”πŸ˜”

Lalu spontan aku bilang ke Aini, 
"An aku ikut summit ya. Badan udah lumayan dibanding semalem. Biar bareng-bareng kita sampai puncak udah sampai pos ini juga."
"Beneran Lis, gpp kamu ?" Aini mencoba meyakinkan

"Iya An, gapapa."

 

--------------

OK, akhirnya aku juga turut siap-siap. Kalau dirunut rasanya perjalanan yang panjang ini perlu diselesaikan dengan baik sampai ke puncak. Berbekal 

  • sarung tangan, 
  • headlamp, 
  • tracking pole, 
  • jaket tentunya dan 
  • kaos kaki 
adalah peralatan untuk pendakian ke puncak di keadaan gelap. Tenyata dari bangun sampai mau jalan udah mau masuk waktu subuh 😯😯. Kita solat dulu di tenda, barulah melakukan pendakian setelahnya.

 

--------------

Karena kondisi masih gelap, jadi kita saling memastikan lagi langkah per langkah di jarak pendek. Juga headlamp yang terus disorot ke area pijakan kaki supaya gak ada yang kesandung atau keplesetπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’œπŸ’¨. Baru juga jalan 10 meter, rasanya udah ngap bercampur keringet dingin. Ngeri-ngeri ambruk aja aku. Tapi aku yakinin "pasti bisa" asal jangan terlalu cepet jalannya. Kondisi gelap + berembun lebih menyulitkan dibandingkan siang hari guys. Karena sangat besar untuk kita berebut oksigen. Haduhhh rasanya udah nano-nano kaya orang mutih 1 bulan ini, lemes teooooo.. 😭😭

Berkali-kali aku gosokan tangan ke pipi supaya hangat. Tetep aja dingin kaya sikap do'i ehhh.

 

--------------
Lanjut, kita tetep jalan terus di dampingin :
  • Teh Iklim dan Bang Danu di barisan depan, 
  • di tengah ada Aku sama Aini serta Indah. 
  • Dan posisi belakang ada Irfan serta Nadzer. 
Dibandingkan saat di jalur pendakian 3 ke 4, di track ini aku lebih banyak ambil waktu buat megangin "lutut" atau duduk di akar-akar pohon sebentar. Nafas udah gak karuan pokoknya....πŸ’”πŸ’”

Setelah melalui perjalanan gelap yang sedikit menghawatirkan (diri sendiri), termasuk Aini yang sempet kejedot pohon (kaya taneman melintang di jalan pas banget nyabet ke jidatnya) pun telah kita lalui. 
Sampailah kita di main camp alias camp utama para pendaki yang dari kemarin udah duluan ke atas. 

~~πŸ’œπŸ’¨πŸ’œAlhamdulillah lelahnya udah mulai ilang sedikit-sedikit. Aku liat ada banyak tenda pendaki yang terpasang kokoh, mungkin dari semalem. Kayaknya kalau maksain buat pasang tenda di area ini bakal gak muat, penuh bangettttt. Hanya ada satu dua pendaki yanng masih berada di tenda, sementara yang lainnya udah berada di puncak.

 

--------------

    

Wowwww.. πŸ˜πŸ’“

Sampai juga kita di puncak. Alhamdulillah...luar biasa...

dengkul yang awalnya gemeter tiba-tiba mulai tegak lagi dengan suguhan pemandangan cantik dan menakjubkan di depannya. Yah view Sagara terlihat dari puncaknya dan matahari mulai nampak pula.

   


Sudah banyak pendaki yang antri di atas untuk menyaksikan sunrise dari ketinggian 2132 mdpl dan lainnya mengambil foto serta video. Sebuah dokumentasi yang sayang untuk dilewatkan. Sayangnya, aku masih mengatur kinerja jantung, dimana detaknya masih cepet banget. Dibandingkan untuk foto di tempat keramaian, aku memilih untuk mencari tempat yang agak legaan untuk mengatur udara yang saling berebutan ini.

 
  


Teh Iklim, Aini, Indah dan lainnya sibuk mengambil gambar dan memasang tripod juga. Bergantian mengambil foto dengan latar belakang sebuah danau yang berbentuk simbol hati. Aku sempat diajak mereka untuk ikutan, awalnya aku menolak karena sungkan juga banyak orang dan gak nyaman diliatin haha, tapi lama-lama cair juga. 

    

Walaupun hanya beberapa kali take aja, aku mikir buat kenang-kenangan aja sayang udah jauh-jauh ngejar tapi gak ada kenangan eayyy.πŸ˜‹πŸ˜‹

   

SELAMAT MENIKMATI SUNRISE GUYS dari gelap sampai terang. Mudah-mudahan jadi moment masa muda yang bakal diinget terus. πŸ˜ŠπŸ’•πŸ’ƒ


---\Bersambung - lanjut part 15/---


DAFTAR ISI - PARA PENARIK TRACKING POLE SAGARA πŸ¦―

Posting Komentar

0 Komentar

Comments