Kalau kamu pernah naik lift di apartemen, hotel, atau pusat perbelanjaan di Jakarta, mungkin kamu pernah sadar satu hal yang agak janggal: lantai 4 sering tidak ada. Biasanya loncat dari 3 langsung ke 5.
Dan ini sering saya amati di beberapa bangunan lift yang ada di Jakarta. Sering bertanya-tanya sendiri alasan dibalik penentuan angka-angka pada lift ini dipengaruhi oleh apa ya ?
Ini bukan kesalahan teknis, bukan juga lantai yang “hilang”, tapi ada alasan budaya dan strategi bisnis yang menarik di baliknya. Berikut 5 alasan "angka 4 ditiadakan pada nomor lantai lift" :
👻 1. Asal-usul: Angka 4 dianggap “tidak beruntung”
- Fenomena ini dikenal sebagai tetraphobia (ketakutan terhadap angka 4), yang banyak ditemukan di budaya Asia Timur seperti :
- Tiongkok
- Hong Kong
- Taiwan
- Singapura
- sebagian komunitas di Indonesia
Dalam bahasa Mandarin, angka 4 (四 / sì) terdengar mirip dengan kata “mati” (死 / sǐ).
Karena kemiripan bunyi ini, angka 4 dianggap membawa kesialan.📌 Dampaknya:
🏙️ 2. Kenapa di Jakarta ikut-ikutan?
💼
- Banyak gedung menghindari lantai 4
- Bahkan kadang lantai 14, 24, 34 juga di-skip
- Walaupun Indonesia tidak memiliki budaya tetraphobia asli, Jakarta adalah kota bisnis internasional. Banyak developer dan operator properti mengikuti standar pasar global.
💼
a. Pengaruh investor asing
Banyak gedung di Jakarta dimiliki atau dikelola perusahaan Singapura, Hong Kong, atau China atau menyasar tenant internasional. Mereka menghindari angka 4 agar properti lebih “marketable”.
🏨
Banyak gedung di Jakarta dimiliki atau dikelola perusahaan Singapura, Hong Kong, atau China atau menyasar tenant internasional. Mereka menghindari angka 4 agar properti lebih “marketable”.
🏨
b. Psikologi kenyamanan penghuni
Di dunia properti, persepsi lebih penting dari logika. Kalau calon penyewa merasa :
Di dunia properti, persepsi lebih penting dari logika. Kalau calon penyewa merasa :
“Ah, angka 4 itu sial”Maka :
- nilai jual bisa turun
- minat sewa berkurang
c. Strategi marketing properti
📊
- Developer sering melakukan “floor renumbering”, contohnya : 1, 2, 3, 5, 6, 7…Secara teknis tidak ada lantai yang hilang, hanya penamaan ulang.
Baca juga artikel menarik lainnya 📰🗞 man
3. Sudut pandang bisnis: kenapa ini tetap dipakai?
- Di dunia bisnis properti, keputusan seperti ini biasanya bukan soal benar-salah, tapi :
“Kalau menghindari angka tertentu bisa meningkatkan penjualan, kenapa tidak?”
Bagi developer :
- Tidak ada biaya tambahan
- Tidak mengubah struktur bangunan
- Tapi bisa meningkatkan daya tarik pasar tertentu
🌏
4. Apakah hanya di Jakarta?
- Tidak. Fenomena ini terjadi di banyak kota besar dunia:
- Singapura 🇸🇬 (sangat umum)
- Hong Kong 🇭🇰 (hampir semua gedung tinggi)
- China 🇨🇳
- Korea Selatan 🇰🇷 (kadang diganti huruf “F” untuk floor)
- Jepang 🇯🇵 (sebagian gedung modern)
5. Jadi, apakah angka 4 benar-benar sial?
Secara ilmiah :
✔ Pengaruh budaya Asia Timur (tetraphobia)
✔ Strategi bisnis properti
✔ Psikologi kenyamanan penghuni
✔ Standar pasar internasional
Fenomena ini menarik karena menunjukkan bahwa desain bangunan modern tidak hanya soal teknik, tapi juga soal persepsi manusia. Bahkan angka pun bisa mempengaruhi nilai bisnis sebuah gedung. cmiww, jadi lebih tahu kan sekarang !!!
Secara ilmiah :
- 👉 Tidak ada bukti angka 4 membawa kesialan.
- kepercayaan budaya
- psikologi massa
- strategi bisnis
✔ Pengaruh budaya Asia Timur (tetraphobia)
✔ Strategi bisnis properti
✔ Psikologi kenyamanan penghuni
✔ Standar pasar internasional
Fenomena ini menarik karena menunjukkan bahwa desain bangunan modern tidak hanya soal teknik, tapi juga soal persepsi manusia. Bahkan angka pun bisa mempengaruhi nilai bisnis sebuah gedung. cmiww, jadi lebih tahu kan sekarang !!!
_Semoga Bermanfaat_
Baca juga artikel menarik lainnya 📰🗞 man

0 Comments
Tinggalkan Pesanmu disini :)