Subscribe Us

Advertisement

Hidup Tidak Memberi Banyak Waktu, Luka yang Terjadi Tidak Pernah Dilihat Usahanya [Beropini (49)]

Aku pada fase mengikhlaskan walau terkadang ada do'a yang lirih kulantunkan diam dalam hening malam. Pahit getir ucapan sering kali menimbulkan mata yang berkaca-kaca, hati yang bertanya dengan keyakinan "kenapa yang lain terlihat begitu sempurna", dan melihat sesuatu yang indah lalu berbicara sendiri, menjawab sendiri entah itu adalah tanda kekecewaan atau bentuk bertahan hidup dalam rute perjalanan atau hanya fase manusia dalam berkehidupan. 

sumber gambar : Dua Jendela




Lingkungan erat kaitannya dengan validasi dan pengakuan, apa yang kumiliki ternyata tidak akan pernah cukup di pandangan manusia, ada penilaian kurang ini dan itu. Namun, yang aku pahami saat ini ketika usia menentukan pembelajaran apa yang mau diambil atau dilupakan bahwa ucapan manusia yang menyakitkan tidak akan pernah menggoyahkan hatiku yang terus berjalan dengan nurani. 



Ketika nanti waktunya tiba, maka aku telah belajar bahwa menjaga lisan dan banyak mendengarkan serta tidak terlalu menyudutkan berbagai hal yang bukan ranah kita akan aku terapkan, karena nyatanya rasa sakit hati dari ucapan manusia terkadang menyebabkan kita tidak bersyukur, hanya berfokus pada satu hal yang tidak sempuran. Padahal nafasku saja Tuhan beri dengan cinta.


Baca juga artikel menarik lainnya 📰🗞 

Post a Comment

0 Comments