Subscribe Us

Advertisement

Membenci Diri Sendiri? Mengutip Sebuah Buku yang Layak Dibaca untuk Kita

Baca buku apa hari ini?

Hari ini saya masih dalam proses membaca buku karya Munita Yeni yang berjudul "BACA BUKU INI SAAT ENGKAU LELAH". Baru seperempat buku yang sempat saya baca, namun pada titik ini juga saya menemukan 2 halaman yang sangat menyita perhatian saya akan tema "MEMBENCI DIRI SENDIRI". 

sumber gambar : Dua Jendela



Hal yang sebenarnya mungkin pernah kita lakukan baik tanpa kita sadari atau sepenuh hati kita sadari, namun kali ini saya tidak akan menjelaskan bagaimana pola membenci diri sendiri karena saya pun bukan ahli di bidang tersebut, saya bukan seorang sosiolog, bukan juga seorang yang harus memberi nasehat.


Tapi saya mau mengutip 2 halaman pada buku Munita Yeni yang mungkin menggambarkan realita kehidupan yang banyak terjadi di tengah in this economy.

Pada halaman #54 dibuka dengan tulisan "MEMBENCI DIRI SENDIRI", dan berikut penjelasannya :


Ketika kita membenci seseorang, apa yang kita lihat dari mereka? Sifat mereka yang:
menyebalkan,kekurangan mereka, kebiasaan buruk mereka, dan hanya sisi negatifnya saja yang dapat kita utarakan, sedangkan kebaikan mereka? 

Nanti dulu, itu tidak penting.

Sisi positif mereka yang pernah mereka tunjukkan atau yang pernah mereka berikan kepada kita? Yah lupakan saja, itu tidak akan terespons saat kita diliputi rasa benci kepada seseorang. Menariknya, saat kita membenci seseorang hal itu akan mudah terlihat. Kita sadar dan mengetahui jika kita sedang membenci seseorang. Bahkan terkadang tetangga kita akan mengetahui jika kita membencinya. Kebencian kepada orang lain lebih terlihat dengan perubahan sikap kita, mimik wajah kita, dan cara serta intonasi saat kita membicarakan orang yang kita benci.

Tetapi, ketika kita membenci diri kita sendiri? 
Terkadang itu sulit untuk kita sadari. Fromm mengatakan apabila rasa curiga dan benci terhadap orang lain dapat langsung dikenali dalam kehidupan sosial, maka curiga dan benci terhadap diri sendiri cenderung kurang dikenali. 

Mengapa? 

Rasa benci terhadap diri sendiri tersembunyi dengan cara yang berlainan. Tidak mungkin secara tiba-tiba kita mengatakan bahwa yang aku benci adalah diri saya sendiri dengan sangat jelas.

Para psikolog sering menemui bahwa salah satu ekspresi dari membenci diri sendiri adalah perasaan inferior (merasa rendah) yang dirasakan di tengah masyarakat. Seseorang merasa tidak--

Lanjut ke Hal. #55

--berdaya dalam masyarakat ini tidak merasa bahwa mereka membenci dirinya sendiri. Lebih lanjut mereka hanya akan mengatakan bahwa mereka merasa kurang:
  • percaya diri, 
  • merasa rendah diri, 
  • perasaan merasa bodoh, 
  • merasa tidak berguna, atau 
  • merasa tidak memiliki sesuatu yang dapat diandalkan dan dibanggakan dalam dirinya ke dunia luar.

Selain itu Fromm dalam bukunya juga menjelaskan bahwa ekspresi lainnya dari membenci diri adaah tidak bisa menerima kritik dari orang lain. Individu ini awalnya tidak merasa inferior di tengah masyarakat, namun ia merupakan seseorang yang tidak bisa menerima jika dirinya tidak sempurna. Sehingga ketika individu ini mendapatkan kritik, ia mengasumsikan jika kritik dari orang lain merupakan pengungkapan kelemahan dan ketidaksempurnaan terhadap dirinya yang ingin ia tutupi.

Ciri lain yang ditunjukkan individu ini, mereka akan mencari pengakuan dari orang lain bahwa mereka merupakan pribadi yang sempurna atau tidak memiliki kelemahan yang terlalu banyak, kemampuannya sesuai standar yang mereka buat berdasarkan pandangan standar di lingkungan sekitarnya. Namun sebenarnya setelah hal kritikan itu berlalu, individu ini akan mulai merinci kekurangan-kekurangan yang ia rasakan, sehingga ia mulai mengkritik dirinya sendiri dan timbullah rasa rendah dirinya.

Ibid (dalam Fromm), hal.227
Ibid (dalam Fromm), hal.227


Buku ini lebih lengkap akan menjelaskan sisi diri yang lebih mendalam, tentang pandangan yang tidak seharusnya memperumit isi kepala, yang tidak seharusnya menjadi sandungan untuk diri berkembang jauh lebih produktif namun juga tidak berlebih dalam bersikap. Jika kamu sedang merasa lelah, buku Munita Yeni ini sangat saya sarankan untuk kamu baca.


Rincian Buku

sumber gambar : Dua Jendela

  • Penulis: Munita Yeni
  • Judul: BACA BUKU INI SAAT ENGKAU MERASA LELAH (Sesungguhnya Berpura-pura Bahagia itu Melelahkan)
  • Penerbit: PSIKOLOGI CORNER, Yogyakarta 2018
  • ISBN: 978-602-5907-78-4

Post a Comment

0 Comments